Kembali
Langkah kaki memijakkan ke sebuah
gedung bergaya Eropa dengan pilar-pilar besar menumpu gedung, warna biru laut
yang menjadi pakaian gedung tersebut, serta jendela-jendela kayu berwarna putih
seakan-akan membawanya ke masa lalu. Gedung yang menjadi sekolahnya pada suatu
masa meninggalkan kenangan sebab bentuknya tak berubah sejak dirinya lulus dari
tempat ini.
Tujuan pertama ketika kakinya
menapak sekolah ini adalah ruang musik yang selalu ia gunakan untuk melarikan
diri dari kerumunan para gadis yang sibuk berkumpul di bangkunya karena selalu
mencari perhatian. Dengusan kasar mendadak keluar darinya ketika mengingat
masa-masa itu benar-benar menyebalkan, namun sedikit membuat rindu. Sedikit, sayangnya. Sesekali ia
merindukan masa-masa sekolah menengah atas di sekolah elit ini. Berawal dari
keinginan orangtuanya untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri dan ditolak
begitu saja sebab ia tak mau menjauh dari orangtuanya. Hal itu terdengar lucu
ketika mengingat gender-nya, tapi
masa bodoh dengan apa yang orang-orang katakan. Keputusan setelah lulus dari
sekolah menengah pertama, ia kembali melanjutkan SMA ke sekolah elit yang cukup
jauh dari rumah.
Ia tak begitu peduli dengan jarak
rumah sebab selalu diantar oleh kakak-kakak lelakinya, ada satu hal yang membuatnya
tertarik ketika melihat sekolah itu adalah terdapat sebuah piano upright di dua ruang musik. Meski di SMP
ia pun bisa memainkan alat musik yang ada seperti keyboard, namun hal itu tidak cukup memuaskan hati karena tak
banyak tuts yang digunakan untuk membuat jari menari di atasnya. Apalagi,
alat-alat musik di sekolahnya banyak yang tak terurus sehingga ia kehilangan
minat untuk memainkan mereka.
Sama seperti dahulu, ketika memasuki
ruang musik di SMA-nya, tak akan didapat satupun orang sebab mereka lebih suka
menghabiskan waktu dengan berolahraga seperti bermain basket, futsal, tenis
meja atau bela diri. Lain hal dengan dirinya yang memilih untuk memainkan piano
upright hitam bermerk Yahama tanpa
membawa satupun buku not sebab sudah banyak lagu yang diingat di luar kepala.
Lagu favorit yang selalu dimainkannya adalah Moonlight Sonata First Movement No.14 milik Beethoven dan I milik Yiruma.
Iris kelabu dibalik kacamata
berbingkai hitam melirik pada kursi yang ditaruh di depan piano. Kursi berlapis
kulit hitam dengan kaki kayu masih tampak bersih. Diedarkan pandangan ke
sekeliling ruangan, mendapati bahwa ruangan ini tak berubah sedikitpun sejak
kelulusannya 10 tahun yang lalu. Hanya alat-alat musik baru saja yang tak
pernah ada saat dirinya menjadi murid di sekolah ini seperti harpa, clarinet dan gitar akustik. Diingat dulu
terdapat gitar akustik di ruangan ini, hanya saja alat tersebut bukan milik
sekolah sehingga gitar tersebut harus pindah-pindah tempat.
Putuskan untuk duduk di kursi,
menatap piano hitam yang berada di hadapan. Jari-jemari diletakkan pada penutup
piano dan dielus, menciptakan tatapan nanar ketika tangan lainnya membuka
penutup tersebut. Tuts putih dan hitam berada tepat di depan mata, hanya saja
waktu mendadak berhenti ketika alunan musik If
I Could See You Again terngiang di kepala. Sejenak kepala
menoleh pada jendela yang terbuka, tirai putih terbang mengikuti arah angin diiringi
dedaunan hijau menggelitik sisi jendela.
Sekilas bayangan tampak seorang
lelaki dan perempuan berada dalam satu ruang musik. Lelaki berkacamata dengan
iris kelabu dan mahkota cokelat muda tengah memainkan tuts piano dengan lihai
hingga membuat gadis di sisinya terkesima. Tanpa sengaja tangan si gadis ikut
menekan tuts, namun pergerakan tersebut terhenti ketika si lelaki merasa nada
yang ia mainkan terdengar berbeda. Ditolehkan pada sang gadis dengan tatapan
datar, dibalas dengan sengiran lebar dan tangan gadis bermahkota obsidian itu
dijauhkan.
Keduanya saling berbalas tatap,
sampai si lelaki menarik tangan lawan bicaranya dan memaksa si gadis untuk
duduk di kursi. Ia memegang tangan gadis tersebut seraya menekan tuts-tuts
piano dengan benar. Tak ada sedikit rasa apapun pada si lelaki, tapi tidak
dengan sang gadis sebab merasa detak jantungnya berdebar tak karuan.
“Kenapa
kamu suka lagu ini?”
Gadis itu bertanya disela-sela
bermain piano. Mendengar pertanyaan tersebut membuat lelaki beriris kelabu
terdiam, memutuskan untuk tidak menjawab dan terus memainkan tuts piano. Si
gadis yang merasa diabaikan pun merasa canggung dan mengikuti suasana.
Mendadak memori itu terngiang tanpa
permisi, membuat si lelaki menutup piano dengan kasar dan bangkit dari kursi. Napasnya
memburu disertai jantung berdebar tak karuan ketika dirinya mengingat sosok itu kembali. Sosok seorang gadis
bermahkota obsidian sepinggang dengan iris karamel, tersenyum lebar dari balik
pintu ketika tak sengaja menangkap sang lelaki bermain piano. Suara yang menyejukkan
hati, tatapan dari kelereng karamel yang menenangkan, sentuhan lembut pada bahu
yang menghangatkan. Sosok itu benar-benar ia rindukan.
Bisakah
kau kembali? Aku merindukanmu.
Komentar
Posting Komentar